Jumat 22 Maret 2002 sekitar pukul 10 waktu setempat, Radio Israel memberitakan
ledakan bom di supermarket Nataynya, dekat Yerusalem. Peristiwa ini menyebabkan
tiga orang tewas dan lebih dari 40 orangluka-luka. Pelakunya diduga kuat seorang
putri Palestina.
Mengutip laporan Republika pada 3 Juli 2002 lalu, pelaku “bom syahid”
itu ternyata adalah seorang remaja puteri berusia 16 tahun, Ayat al-Akhras namanya.
Bagi keluarganya, syahidnya Ayat al-Akhras cukup mengagetkan juga. Meski tahu
bahwa syahidah adalah cita-cita tertinggi anaknya, Ny Al-Akhras tetap saja merasa
kehilangan. Dengan mata berlinang, dia mengulang kata-kata sang anak ketika
berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap warga Muslim Palestina. "Apa
nikmatnya hidup di dunia ketika kematian selalu mengintai kita. Mana yang lebih
indah, mati dalam ketidakberdayaan dan kehinaan atau gugur di medan jihad."
Shaadi Abu Laan (20), calon suami Ayat, termangu beberapa saat ketika kabar
itu sampai padanya. Dia nyaris tak percaya Ayat pergi begitu cepat mendahuluinya.
Padahal Juli ini, jelas Shaadi, "Kami sudah berencana untuk resmi berumah
tangga. Begitu Ayat lulus ujian, kami akan menempati rumah sederhana yang belum
didekor." Mereka, tulis Azaalcity, sudah satu setengah tahun ini tunangan
(khitbah). Keduanya bahkan telah menyiapkan nama 'Adiyy untuk bayi pertamanya.
Sobat muda muslim, anak-anak Palestina dibesarkan dalam lingkungan yang penuh
dengan konflik. Saban hari mereka merajut kesulitan hidup, merenda rintangan,
dan menjahit potongan nestapa hidup. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lebih
dewasa ketimbang umurnya. Itulah sebabnya mereka tumbuh menjadi generasi pejuang
yang gagah berani dan pantang menyerah. Beda banget dengan anak-anak yang hidup
dalam lingkungan yang serba enak. Ya, barangkali seperti kita-kita di sini.
Hidup kita nyaris nggak menemui rintangan yang berarti, bahkan mungkin sedikit
banget tantangan. Itu sebabnya, kita nggak termotivasi untuk berjuang dan berkreasi
lebih inovatif dalam menjalani hidup ini.
Kita-kita yang tinggal di daerah yang aman, apalagi gemah ripah loh jinawi,
cenderung nyantai dan lamban dalam aktivitas. Malah yang terjadi adalah membuang
begitu banyak waktu luang untuk pesta dan hura-hura. Coba lihat kehidupan remaja
Amerika, Perancis, Arab Saudi, Jepang, termasuk di negeri ini. Nyaris semuanya
nyantai. Yang lebih parah lagi di negeri kita. Sudahlah sekarang negara ancur-ancuran,
eh, kehidupan remajanya juga amburadul. Parah deh!
Sobat muda muslim, Ayat al-Akhras adalah contoh bagi kita. Betapa perjuangan
hidup memang butuh pengorbanan yang tak sedikit. Bahkan ia harus rela memupus
impiannya untuk menikah dengan pemuda pujaan hatinya. Ia lebih memilih menjadi
syuhada. Indah!
Ayat, menurut ABC News, termasuk anak cerdas dan rajin belajar. Sampai saat-saat
menjelang syahidnya, dia masih rajin menasihati teman-temannya untuk terus belajar
dan belajar. "Penguasaan ilmu dan teknologi amat penting dan diperlukan
untuk mendukung perjuangan kita, apa pun bentuknya."
Hayfaa, teman baiknya, berujar, "Dia selalu menasihati kami bahwa belajar
harus tetap berjalan, meski rintangan dan bahaya mengancam di sekeliling kita."
Tentang jihad, Ayat selalu berkata, "Jihad itu kewajiban setiap Muslim.
Termasuk wanita. Mengapa kita harus membiarkan nyawa kita terenggut sia-sia
oleh kebiadaban zionis Israel." Kematian seorang mujahid, kata dia, akan
membangkitkan keberanian mujahid-mujahid lain, Bukan sebaliknya.
Hayfaa tak menyangka Ayat syahid secepat itu. Dalam hari-hari terakhirnya, dia
rajin mengumpulkan foto-foto mujahid Palestina. Di meja belajarnya berjejer
slogan-slogan jihad dan kepahlawanan. "Dia pergi untuk bergabung dengan
barisan syuhada lainnya." (Republika, 3 Juli 2002)
Sobat muda muslim, Ayat, menurut data Islamic Movement Crescent, kini tercatat
sebagai syahidah kedua di Palestina atau yang keenam dalam barisan pelaku aksi
bom syahid sepanjang tahun 2002. Syahidahpertama adalah Wafa Idris (27), janda
kembang yang berprofesi sebagai paramedis di Ramallah. Dia gugur dalam aksi
menjelang akhir Januari 2002 yang menimbulkan seorang Israel tewas dan melukai
100 orang lainnya.
Di Palestina, aksi bom syahid sendiri telah berlangsung setidaknya dalam 21
bulan terakhir dan melibatkan sedikitnya 250 mujahid, umumnya berusia di bawah
30 tahun.
Bukan teror
Sebagian besar orang, terutama mereka yang membenci Islam, menyebut aksi ‘kamikaze’
pejuang Palestina tersebut sebagai bentuk teror dengan sebutan “bom bunuh
diri”. Inilah istilah yang amat menyakitkan bagi kita. Terus terang perih
dan kesal bila mendengar atau membaca berita tersebut dengan istilah “bom
bunuh diri”. Pers Barat sengaja mengekspos kasus tersebut dengan harapan
dunia internasional mengutuk aksi mulia para pejuang Palestina. Jahat nian ya?
Ironisnya, sebagian dari kita tertipu dengan berita mereka, hingga seringkali
menutup mata atas perlakuan serdadu-serdadu Yahudi Israel atas warga Palestina.
Barangkali, banyak di antara kita yang tidak pernah sedikitpun berpikir untuk
mengecam Yahudi. Wah, gaswat!
Sobat muda muslim, pers Barat memang licik. Mereka selalu mengekspos hal ‘kecil’
yang dilakukan pejuang Palestina dalam memerangi Israel. Misalnya dalam pemberitaan
tentang ‘bom syahid’ ini. ‘Kamikaze’ yang dilakukan
pejuang Palestina suka diplintir. Tepatnya mereka mendramatisir kejadian, lengkap
dengan embel-embel teror yang dilakukan Palestina atas Israel. Dan itu biasanya
akan menjadi justifikasi (pembenaran) tindakan balasan Israel yang jauh lebih
dahsyat. Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana pasukan Yahudi Israel membumi-hanguskan
kota Jenin atas perintah Ariel Sharon sang durjana, sebagai aksi pembalasan.
Barangkali karena termakan provokasi pers barat, akhirnya sebagian pers “Islam”
juga ikutan memandang sinis terhadap perjuangan rakyat Palestina tadi, dengan
menyebutnya sebagai, “teror yang tidak menyelesaikan masalah, dan bahkan
membawa kematian sia-sia”. Walah, tega nian dikau?
Pertanyaannya sekarang, apakah semua teror itu jahat? Ada baiknya kamu memahami
kenapa sebagian pejuang Palestina melakukan aksi teror pada lawan-lawannya (Israel
dan antek-anteknya).
Pertama, teror Palestina—itupun
kalo mau dikatakan teror—adalah ‘counter terror’, yakni aksi
balasanterhadap teror, kesewenang-wenangan, dan penindasan Israel terhadap bangsa
Palestina sebagaimana filsafat klise, “selemah-lemahnya cacing, kalo diinjek
menggeliat juga”.
Kedua, teror Palestina adalah tindakan untuk membuktikan eksistensi
bangsa Palestina yang tanah airnya dirampas Yahudi Israel. Hal ini persis dengan
peristiwa Serangan Umum atau Serangan Fajar atas Yogyakarta pada 1 Maret 1949
oleh pejuang kemerdekaan Indonesia, yang membuktikan kepada dunia internasional
bahwa Indonesia ‘masih ada’.
Dan ketiga, di atas semua itu, teror Palestina dianggap sebagai
bagian dari jihad. Walhasil, teror Palestina berdimensi sekaligus kemanusiaan,
politik, dan juga relijius. Jadi bukan suatu kesia-siaan, sobat!
Kalo yang dilakukan Israel? Itu sih sudah pasti disebut teror dong. Ups.., bukan
hanya teror, tapi sekaligus perampasan, perampokan, dan pembantaian. Terlaknat
Yahudi!
Bukan bunuh diri
Sobat muda muslim, aksi “bom syahid” para pejuang Palestina yang
rata-rata masih belia itu bukanlan bunuh diri. Sebab, kita yakin banget, mereka
nggak mungkin untuk melakukan bunuh diri. Bunuh diri bukan saja tindakan konyol
tapi jelas berdosa. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bunuh diri
dengan menggunakan besi yang tajam, maka alat yang digunakannya itu akan dihunjamkan
ke dalam perutnya kelak di hari kiamat dalam api neraka; di dalamnya ia kekal
abadi. Barangsiapa bunuh diri dengan meminum racun, maka kelak dalam api jahanam
racun tersebut akan diminum dengan tangannya; di dalamnya ia kekal abadi. Barangsiapa
yang terjun dari sebuah gunung (tempat yang tinggi) untuk bunuh diri, maka ia
akan terjun di dalam api neraka; di dalamnya ia kekal abadi.” (HR
Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah
ra, dalam al-Fath al-Kabir III/224)
Adapun aktivitas jihad, seperti aksi bom syahid yang dilakukan saudara kita
di Palestina, yang di dalamnya mengandung aktivitas yang dapat menghantarkan
kepada kematian (secara pasti menurut sunatullah) atau berisiko kematian besar
bagi pelakunya, maka hal itu termasuk kekecualian dari keumuman dalil larangan
tentang bunuh diri. Firman Allah Swt: “Hai Nabi, kobarkanlah semangat
kaum mukminin untuk berperang” (TQS al-Anfâl [8]: 65)
Sobat muda muslim, para ahli tafsir menghubungkan ayat ini dengan sebuah riwayat
yang mengisahkan bahwa sebelum meletus Perang Badar al-Kubra, Rasulullah saw.
telah bersabda:“Bersegeralah (ke suatu tempat) yang di situ kalian
(dapat) meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Maka Umair
bin al-Humam bertanya, ‘Apakah benar luasnya seluas langit dan bumi?’
‘Ya’, jawab Rasulullah, seraya‘Umair berkata, ‘wah,
wah, wah (hebat sekali).’ Maka Rasulullah saw. Kemudian berkata, ‘Apa
yang mendorongmu berkata ‘wah, wah, wah’? Jawabnya, ‘Karena
aku berharap menjadi penghuninya’. Maka Rasulullah bersabda, ‘Kamu
pasti menjadi penghuninya.’ Kemudian laki-laki itu memecahkan sarung pedang
lalu mengeluarkan beberapa butir kurma. Memakannya sebagian dan membuang sisanya
seraya berkata, ‘Apabila aku masih hidup sampai aku menghabiskan kurma
tersebut maka kehidupan ini terlalu lama’ Bergegas ia maju ke baris depan,
memerangi musuh (agama) hingga ia mati syahid.” (Shahih Muslim No.
1901, dan Tafsir Ibnu Katsir II/325).
Yup, itu bukan diri, tapi bagian dari aktivitas jihad. Dr Abdul Aziz Al-Rantisi,
salah satu pemimpin Hamas, menjelaskan bunuh diri biasanya dilakukan oleh orang
putus asa yang ingin lari dari masalah. Sedangkan aksi syahid dilakukan dengan
niat ingin menyelesaikan masalah, menghilangkan kezaliman. Al-Fidaii 'pengorbanan
nyawa' dilakukan dengan harapan mendapat ridha dan rahmat Allah. ''Kami tak
ragu sedikit pun meneruskan aksi jihad ini sampai Israel hengkang dari wilayah
Palestina.'' (Republika, 5 Juli 2002)
Kita juga ingin jadi syuhada
Sobat muda muslim, rasanya amat pantas kalo kita jadikan sebagai teladan
yang baik aksi ‘kamikaze’ pejuang Palestina itu. Mereka masih muda
usia. Tapi soal keberanian dan jiwa berkorbannya mampu mengalahkan siapapun.
Semoga kita pun bisa seperti mereka. Kuatkan keinginan itu dalam hati kita.
Bahwa kita ingin juga menjadi syuhada dalam berjuang membela agama Allah ini.
Sebab kita yakin bahwa mati sebagai syuhada adalah sebuah kemuliaan dan tentunya
keindahan. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.”
(TQS at-Taubah [9]: 111)
Sobat muda muslim, kita doakan saudara kita di Palestina agar mereka mampu menghancurkan
kekuatan Yahudi Israel dan antek-antkenya (Amerika, Inggris, dan seluruh negara
yang mendukung aksi biadab Zionisme Israel). Satu kata melawan Israel adalah
“JIHAD”. Bukan perdamaian. Sebab, berdamai hanya akan membuat senang
para petinggi Israel dan antek-anteknya. Sebaliknya, rakyat Palestina akan tetap
menderita. Kalo pun kemudian ketika mereka berjihad melawan Yahudi Israel itu
harus meninggal, semoga saja mereka menjadi syuhada.
Sobat muda muslim, apakah kita tidak ingin mendapat pahala seperti mereka?
Kita juga kudu punya cita-cita mulia seperti mereka. Yes, menjadi syuhada. Allahu
Akbar! ? |